Senin, 25 Agustus 2014

KONFLIK, Harga Eksistensi FI dan NKRI di Papua (bagian 2)


Penulis : Topilus B. Tebai | Senin, 25 Agustus 2014 22:00 Dibaca : 297   Komentar : 0
Panser di Freeport Indonesia. Foto: Ist

Bagian ini adalah sambungan dari  satu tulisan panjang. Disarankan lebih dahulu membaca bagian 1.

Sikap Negara Indonesia
Sikap Indonesia santai, adem ayem alias diam dan duduk manis menanti persennya tiba dalam bentuk pajak dan bagi hasil sesuai perjanjian kontrak, dan atas saham 8.5% yang ditanamnya di PT Freeport. Bagaimana empati pimpinan negara Indonesia atas nasib orang Papua yang tetap melarat hingga saat ini? Hampir tak ada. Bahkan negara Indonesia melalui militernya menunjukkan sikap memihak Freeport.
   
Ingatlah sejarah. Freeport Hadir tahun 1967 ketika Papua masih dalam status quo. Indonesia mempersilahkan masuk PT FII dengan penetapan Undang-undang penanaman modal asing (PMA). Indikasi yang hingga saat ini melekat di hati orang Papua kebanyakan adalah bahwa kontrak karya Freeport dijadikan 'alat pelicin' oleh Indonesiat untuk memuluskan keinginannya menjadikan Papua menjadi wilayah NKRI.
   
Dengan perjanjian dan serangkaian kesepakatan yang masih 'abu-abu' hingga saat ini, Freeport beroperasi. Dampak limbah yang ditimbulkan begitu berbahaya. Manusia Papua sebagai pemilik ulayat tidak diperhatikan dan malah terus menjadi objek mengail rezeki dari pendatang dan militer. Sementara puluhan ribu kilo emas dan tembaga per hari dikeruk dan dibawa pergi.
   
Indonesia malah merespon pemberontakan atas derita yang dibawa Freeport dengan melabeli separatis yang melawan negara Indonesia yang oleh hukum legal untuk dibasmi. Orang Papua dilihat sebagai kelompok yang menghambat pembangunan yang harus ditumpas. Indonesia memihak Freeport dan menempatkan diri sebagai musuh rakyat Papua yang menderita karena kehadiran Freeport.

Sikap Rakyat Papua
Dari awal, orang Papua menentang pendatang baru untuk datang dan menguasai wilayah adat Papua. Hal ini tercermin dari awal. Sikap mereka diungkapkan dengan berbagai cara, mulai dari ucapan, demostrasi, hingga perlawanan fisik.
   
Orang Papua menganggap tanah adalah mama yang memberi mereka makan. Maka konsekwensi manusia Papua dalam hidup sehari-hari adalah menghargai dan melindungi  alam, tanah dan segala isi di wilayah kekuasaan adatnya. Dengan demikian, cara Freeport  datang tanpa diundang dan tanpa permisi, cara mereka menduduki dan mengeksploitasi tambang jelas berseberangan dengan adat yang dianut orang Papua.
   
Misalnya, hal ini tercermin dari kata-kata Yosepha Alomang pada Mei 2000: "Gunung Memangkawi itu saya. Danau Wanagong itu saya punya sum-sum. Laut itu saya punya kaki. Tanah di tengah ini tubuh saya. Kou sudah makan saya. Mana bagian dari saya yang kou belum makan dan hancurkan? Kou sebagai pemerintah harus lihat. Sadar bahwa kou sedang makan saya. Coba kou hargai tanah dan tubuh saya..!"
   
Jenderal TPN/OPM, Gen. Kelly Kwalik yang beroperasi di bagian Timika pun kadang menyerang beberapa pos militer, Freeport security. Sayangnya, perjuangan orang Papua untuk menuntut hak mereka untuk dipenuhi, perlawanan mereka dengan cara mereka, selalu ditanggapi sebagai upaya menentang Negara Indonesia (separatis) dan upaya untuk menentang Freeport (menentang asset Negara) yang harus diamankan dengan berbagai cara.
   
Maka sejak Freeport masuk dan secara tidak langsung menarik semua orang dari seluruh suku bangsa di Papua, seluruh orang Indonesia dari berbagai provinsi dan pulau, bahkan masyarakat internasional untuk datang ke Timika. Telur konflik pun telah pecah.

Konflik Timika
Timika. Oleh dunia, dia lebih terkenal dengan nama Tembagapura. Oleh orang Papua dan Indonesia sebagian, Timika juga terkenal karena menjadi kota konflik.
   
Konflik yang terjadi beragam. Secara umum, ada beberapa model konflik yang dapat diidentifikasi menurut pihak-pihak yang bertikai dan terlibat dalam konflik. Pihak-pihak yang terlibat dalam konflik sudah jelas, PT Freeport, orang Papua dalam kelompok-kelompok suku (Dani, Moni/Migani, Mee, Damal, Amungme, Kamoro), Orang kei, orang Timor, orang Pendatang (Jawa, Bugis, Makassar, dll), TNI/Polri, Orang Tak Dikenal (OTK), dan TPN/OPM. Dalam konflik batin berupakonflik ideologi, masih banyak pihak-pihak yang menjadi aktor konflik.
   
Yang paling banyak terjadi adalah konflik antar orang Papua dan Freeport, antar orang Papua sendiri dalam lingkup suku-suku, konflik antara OPM dengan TNI/Polri karena perbedaan ideologi dan konflik dengan pendatang (orang luar Papua).

Yang menarik adalah menyimak dampak yang ditimbulkan dari kehadiran PT Freeport terhadap konflik. Yang jelas, kehadiran PT Freeport menjadikan wilayah adat yang dihormati habis diambil dan dipatok sebagai wilayah tambang. Penghuninya dari berbagai suku bangsa dikumpulkan di satu tempat. Ini sudah jelas sangat rentan terhadap konflik antar kelompok suku. Hal ini juga karena masalah peradaban (mengenai ini, akan dijelaskan di bawah).
   
Freeport juga hadir membawa militer untuk mengamankan tambang, berupa TNI/Polri dari berbagai kesatuan. Mereka digaji besar dari Negara dan Freeport untuk mengamankan. Mereka kadang tidak berperikemanusiaan terhadap warga Papua.
   
Saya pikir ada juga dampak dari  lompatan yang cukup tinggi yang dialami orang Papua dalam hal peradaban kehidupan. Saya ingat sharing pendapat Emanuel Gobay, pekerja HAM di lembaga bantuan hukum (LBH) Yogyakarta beberapa waktu lalu yang mengatakan, tingkatan peradaban orang Papua dengan Indonesia dan manusia di dunia lain berbeda. Orang Papua mengalami lompatan peradaban.
   
Menurutnya, orang Papua masih berada pada tingkatan peradaban komunal primitif ketika Freeport masuk. Sayangnya, orang-orang yang menyetir Freeport dan masyarakat Indonesia sudah mulai masuk kepada tingkatan peradaban kapitalis. Ada beberapa tingkatan peradaban yang dilompati orang Papua.
   
Dalam arti lain dapat dikatakan, kedatangan bangsa-bangsa luar mengakibatkan orang Papua seperti dipaksa untuk menjadi penghuni peradaban kapitalis dari posisi komunal primitif. Sayangnya perilaku dan tindakan orang Papua akan tetap mencerminkan posisi peradaban hidup komunal, walau secara riil, orang Papua saat ini menjadi penghuni peradaban kapitalis.
   
Ini berpengaruh pada pola pikir. Masyarakat kapitalistik akan berpikir untuk memanfaatkan setiap kesempatan yang ada untuk menghasilkan uang, keuntungan dan laba. Dengan cara bagaimana pun itu.
   
Bila peluang dan kesempatan itu tidak ada, mereka akan bangkit menciptakan peluang dan kesempatan itu. Sementara orang Papua yang masih berpola pikir komunal akan mengutamakan keluarga dan sukunya, mengenal pembagian wilayah kekuasaan adat dan saling menghormati, dan pola hidupnya masih mengutamakan kebersamaan.
   
Beberapa perbedaan ini dalam pembahasan selanjutnya kita telaah, apakah kehidupan masyarakat Papua yang komunal primitif dengan sifat-sifat dasar mereka itu bisa digunakan dan dimanfaatkan untuk menghasilkan keuntungan bagi masyarakat kapitalis dengan sifat kapitalistik yang membentuk dasar pemikiran dan arah hidup mereka. 

MENUNTUT BEBASKAN JURNALIS INTERNASIONAL, BERI RUANG JURNALIS ASING

RUANG JURNALIS ASING

MENUNTUT BEBASKAN JURNALIS INTERNASIONAL, BERI RUANG JURNALIS ASING

Diposting oleh TPN pada Senin, 25 Agustus 2014 | B-TPN: Like, Share, dan Komentar

Foto: Kegiatan Mimbar Bebas di Titik nol kilometer oleh AMP/Dok. AMP
Buletin TPN, Yogyakarta – Bebaskan dua wartawan Internasional asal Prancis yang di Tahan oleh Republik Indonesia melalui Kepolisian Indonesia di Papua, tanggal 6 Agustus 2014.

Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) menggelar Mimbar Bebas di titik nol kilometer Yogyakarta terkait Pembungkaman Demokrasi, Dibatasi kebebasan Perss lokal, dan pelarangan Wartawan Internasional untuk melakukan kegiatan Jurnalisme di Tanah Papua.

Terkait pelarangan Jurnalis Internasional di Tanah Papua, Thomas Dandois dan Valentine Bourrat telah di Tahan oleh Negara Indonesia melalui Kepolisian Indonesia di Papua, tanggal 6 Agustus 2014 saat berada di Wamena.


AMP menanyakan, mengapa hal seperti ini terjadi di Tanah Papua. Sebenarnya, apa yang disembunyikan oleh Kolonial Indonesia.

“Kolonial Indonesia stop menutupi segala ruang kebebasan apapun, dan terlihat Negara penjajah Indonesia terus melakukan kegiatan sebagai penjajah di Tanah Papua,” kata Pemandu Acara, Mikael Kudiai saat mimbar bebas dan dikutip B-TPN, Minggu (24/08/2014) waktu menjelang malam Yogyakarta.

Dunia Internasional menyaksikan wajah Negara Indonesia yang terus melakukan aktivitas menjajah, membiarkan eksploitasi terjadi, merampas hak-hak dasar Orang Asli Papua.

Kedua wartawan asing ditahan dengan hukuman lima tahun penjara dan denda 500 juta.
(Admin/B-TPN)

Bebaskan 2 Wartawan Prancis dan Segera Buka Ruang Bagi Jurnalis Asing Masuk ke Papua Sunday, August 24, 20140 comments

Bebaskan 2 Wartawan Prancis dan Segera Buka Ruang Bagi Jurnalis Asing Masuk ke Papua

Sunday, August 24, 20140 comments

2 Wartawan asing yang ditahan polda Papua

Pembungkaman terhadap ruang demokrasi semakin nyata dilakukan oleh pemerintah Indonesia melalua aparat negara (TNI-Polri) dengan melarang adanya kebebasan berekspresi bagi rakyat Papua didepan umum serta penangkapan disertai penganiayaan terhadap aktivis-aktivis pro kemerdekaan Papua.

Keadaan yang demikian; teror, intimidasi, penahanan, penembakan bahkan pembunuhan terhadap rakyat Papua terus terjadi hingga dewasa ini diera reformasinya indonesia. Hak Asasi Rakyat Papua tidak ada nilainya bagi Indonesia.

Dan berbagai kasus kejahatan terhadap kemanusian yang dilakukan Militer Indonesai terhadap Rakyat Papua lainnya yang tidak terhitung jumlahnya.
Selama 50 tahun terakhir, pemerintah Indonesia telah melarang semua wartawan asing memasuki Papua Barat dalam upaya untuk menutupi kekejaman yang dilakukan Oleh pemerintah Indonesia

Tahun lalu, perdana Mentri Indonesia Marty Natalegawa menyatakan bahwa sekarang pemerintah Indonesia memungkinkan media internasional untuk mengunjungi Papua Barat dan Gubernur setempat, Lukas Enembe juga mengatakan ia menyambut wartawan untuk mengunjungi Papua Barat.

Thomas Dandois dan Valentine Bourrat Pasangan jurnalis ini ditangkap pada tanggal 6 Agustus, dan dipenjarakan dan sekarang terancam dengan 5 tahun penjara ddengan dendah 500 jutah. Thomas Dandois dan Valentine Bourrat berada di papua Barat dengan Tujuan membuat sebuah film dokumenter tentang situasi nyata di Papua Barat.

Dengan Penengkapan terhadap Thomas Dandois dan Valentine Bourrat dua wartawan membenarkan kehadiran Indonesia di Papua bertujuan untuk menguasai dan menjajah, tidak untuk membangun Rakyat Papua.


Maka, Aliansi Mahasiswa Papua menuntut dan mendesak Rezim SBY & Budiyono/atau pemerintahan baru Jokowidodo dan Jusuf kalah untuk segera:


  1. Mebebaskan Thomas Dandois dan Valentine Bourrat  Tanpa syarat
  2. Mencabut Larangan Terhadap wartawan asing Untuk Meliputi di Papua sejak 1963
  3. Berikan Kebebasan bagi Jurnalis/ asing untuk hadir di Papua

Demikian press release ini dibuat, kami akan terus melakukan perlawanan terhadap segala bentuk penjajahan, penindasan dan penghisapan terhadap Bangsa dan Rakyat Papua Barat. Terima kasih atas dukungan Kawan-kawan jurnalis dalam memberitakan persoalan rakyat Papua demi terciptanya demokratisasi di Tanah Papua

Rabu, 18 Juni 2014

JAYAPURA DAN MIMIKA DITETAPKAN SEBAGAI KAWASAN EKONOMI HIJAU

JAYAPURA DAN MIMIKA DITETAPKAN SEBAGAI KAWASAN EKONOMI HIJAU

Rakor Penanaman Modal. (Jubi/Alex)
Rakor Penanaman Modal. (Jubi/Alex)
Jayapura, 18/6 (Jubi) – Pemerintah Provinsi Papua menetapkan wilayah Binggran di Jayapura dan Mimika  sebagai kawasan ekonomi hijau selain ‘Merauke Integreted Food and Engergy’ Estate di Merauke.
“Penetapan kawasan ekonomi hijau tersebut dipersiapkan untuk memaksimalkan kegiatan industri, ekspor, impor dan kegiatan ekonomi lain yang memiliki nilai ekonomi tinggi,” kata Gubernur Papua Lukas Enembe melalui Asisten II Setda Papua, Elia Loupatty, saat membuka Rakor Perencanaan dan Penahanan Modal, di Hotel Aston Jayapura, Papua, Rabu (18/6).
Menurut Elia, penetapan kawasan ekonomi hijau tersebut tetap prolingkungan dengan tujuan untuk mempercepat perkembangan daerah dan sebagai model terobosan pengembangan industri, pariwisata dan perdagangan sehingga dapat menciptakan lapangan pekerjaan.
“Untuk mewujudkan kawasan hijau tersebut diperlukan dukungan sarana dan prasarana yang memadai berupa ketersedian infrastruktur dan energi yang ramah lingkungan,” ujarnya.
Di samping itu, sejalan dan sesuai dengan salah satu misi pembangunan Papua, yakni percepatan pembangunan infrastruktur dan konektivitas antar kawasan dan antar daerah dengan mengedepankan prinsip pembangunan berkelanjutan.
Untuk itu, kata Elia, saat ini pemerintah sedang melanjutkan penyelesaian pembangunan ring road atau jalan yang terbentang melingkar dengan kualitas standar tol dari Jayapura menuju Sentani. “Sementara dengan dana APBN kita melaksanakan pembangunan pelebaran dan peningkatan fasilitas Bandara Sentani agar bisa didarati oleh pesawat berbadan lebar pada siang maupun malam hari. Semuanya itu, saat ini masih dalam tahapan penyelesian pembangunan,” jelasnya.
Sementara untuk bidang energi, lanjutnya, telah direncanakan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Urumuka yang lokasinya mencakup empat kabupaten, yakni Mimika, Deyai, Dogiyai dan Paniai sebagai pendukung kawasan ekonomi hijau Mimika.
Sedangkan untuk kawasan ekonomi hijau Bonggrang, telah disusun rencana pembangunan PLTA Mamberamo. “Dalam rangka pemanfaatan tailing untuk industri semen di Kabupaten Mimika telah ditandatangani MoUnya dengan PT. Free Port Indonesia guna memenuhi kebutuhan semen di Papua,”kata dia.
Elia menegaskan , tantangan yang dihadapi dalam pengembangan investasi dan meningkatkan daya tarik investasi di Papua tidaklah ringan.  “Namun,  dengan kekayaan sumber daya alam yang melimpah dapat memberikan keyakinan dan optimisme, tanah Papua ini dapat memberikan kesempatan dan peluang bagi seluruh pelaku usaha serta investor untuk berkipra seluas-luasnya berinvestasi di Papua,” katanya.
Di tempat yang sama. Kepala Badan Penanaman Modal Provinsi Papua, John Way mengatakan bahwa pihaknya akan sangat mendukung kebijakan gubernur dalam hal mengembangkan Papua ke arah yang mandiri, bangkit dan sejahtera, dengan mempersiapkan SDM yang mumpuni.
“Kami siap menjalankan program sesuai dengan visi misi gubernur, yakni Papua bangkit, mandiri dan sejahtera. Apalagi Papua memiliki sumber aaya alam (SDA) yang berlimpah. Untuk itu, kami persilakan para investor untuk menanamkan modalnya di Papua,” kata John Way. (Jubi/Alex)

EU Expresses Concern Over Shariah-Related Human Rights Abuses in Aceh

EU Expresses Concern Over Shariah-Related Human Rights Abuses in Aceh

Baitul Rahman mosque in Banda Aceh. (JG Photo/Boy T. Harjanto)
Banda Aceh. In a visit to Sumatra’s northernmost province, the European Union’s ambassador to Indonesia expressed concern over human rights abuses, against women in particular, that have been documented under the semi-autonomous province’s enforcement of shariah law.
“There have been a few cases during the implementation of sharia law in Aceh that have shed a negative light abroad,” Ambassador Olof Skoog said on Tuesday, during his two-day visit to Aceh.
Over the course of his visit, Skoog — accompanied by the ambassadors from the Czech Republic, Denmark, Germany, Italy, and Sweden — met and talked with local human rights activists, with Aceh Governor Zaini Abdullah and with members of the Aceh Legislative Council (DPRA). 
Skoog said that in every meeting he had expressed the EU’s concern over the human rights impact of shariah in the province.
“Our concern is respect for women’s rights in the Islamic shariah implementation,” he said. “During the meeting with the governor we were convinced that Aceh is very tolerant for non-Muslims and that sharia law is implemented with a soft approach.”
Muslims in Aceh face public caning for certain crimes, including adultery, under the local legal system.
A woman and her married lover were sentenced to be caned for adultery in May, even after she had been gang-raped by vigilante enforcers of shariah, sparking domestic and international outrage.
Skoog said he expressed concern to Zaini over a measure passed in December 2013 that would expand the application of shariah to include non-Muslims.
“We have a concern over the implementation of these codes for non-muslims but we don’t want to intervene too much, the most important thing is the respect for the human rights and tolerance within the shariah,” he said.

NZ Ambassador Defends Canceled Police Training Program

NZ Ambassador Defends Canceled Police Training Program

Papuan students take part on a rally in Surabaya on Dec. 2, 2013, demanding the freedom of West Papua from Indonesia. (AFP Photo/Bay Ismoyo).
Jakarta. New Zealand’s ambassador to Indonesia, in response to allegations that his country had a hidden motive behind a police training project in eastern Indonesia, says New Zealand has only ever worked at the request of the Indonesian government.
Ambassador David Taylor said he was surprised to read comments by the deputy chief of the Indonesia National Police, Comr. Gen. Badrodin Haiti, that the $5.4 million program was shelved over concerns about its motives.
“We only do things in response to what the Indonesian government asks — and that’s what we’ve done in this case,” he said in an interview at his office in the embassy in South Jakarta on Thursday.
Taylor also reaffirmed that the New Zealand government respected Indonesia’s territorial integrity and wished only to support its further development.
On Tuesday, Badrodin said the three-year training program, funded by New Zealand Aid and managed by the New Zealand Police, was canceled on advice from police intelligence reports.
“We refused it based on the input from head of [the] Police’s Security Intelligent agency, Comr. Gen. Suparni Parto, that there could be a hidden motive behind the aid,” Badrodin told the Jakarta Globe.
The program, which was scheduled to start in West Papua early this year, followed a pilot project in Papua, Maluku and Aceh in 2009-10. Two full-time New Zealand police staff would have been deployed to the Indonesian National Police office in Jayapura for three years, as well as short-term specialists, in the aim of providing training for up to 1,000 Indonesian police officers.
Taylor said the project had been requested by the Indonesian National Police and that they had been consistently involved in its development.
“There have been instances in the past of problems involving police in communities in different parts of Indonesia,” he said. “The Indonesian government recognized that, wanted to make some improvements and they came to us and asked for help. We said, ‘Sure’.”
The Indonesian police informed their New Zealand counterparts several months ago that the project would not proceed, Taylor said.
However, the cancellation was not expressed “in terms of concern [about motives],” he said. “They were focused on elections this year, they said, and were concerned about security.”
Indonesians on July 9 will elect a new president, replacing Susilo Bambang Yudhoyono, whose second five-year term ends in October.
Taylor acknowledged that New Zealand had turned down an offer to train members of Indonesia’s police force in Java or Makassar but said that was because the program stressed practical training.
“The idea was that the community policing program that New Zealand runs is different to other community policing because it puts practical training into communities where there is stress,” the ambassador said.
Human rights groups in Indonesia and New Zealand have seized upon the program’s cancellation as proof Indonesian government is uncomfortable with outside scrutiny and, in particular, its repression of the West Papuan independence movement.
“We should be taking a postive stance towards peace making, rather than doing backdoor deals that the Indonesians walk away from when there is any risk of scrutiny,” Green Party MP Catherine Delahunty told Radio New Zealand International.

Panglima TPN-OPM Wilayah Saireri II Tewas Ditembak !

Panglima TPN-OPM Wilayah Saireri II Tewas Ditembak !
7 Views
Panglima TPN-OPM Wilayah II Saireri Rudy Orarei saat berpose di depan kamera bersama bendera bintang kejora. (foto: dok Sulpa)
Serui (Sulpa) – Panglima TPN-OPM Wilayah II Saireri Rudy Orarei yang selama ini bermarkas di Kampung Kontinai Distrik Angkaisera Kabupaten Kepulauan Yapen dipastikan tewas Selasa pagi kemarin sekitar pukul 8:00 WIT setelah terjadi kontak senjata antara rombongan Kapolres di Kampung Kainui.
Kronologis bermula saat rombongan Kapolres, Kasat Reskrim dan tim mendatangi TKP  di Kainui untuk melakukan olah TKP, karena ada kasus pembunuhan Korban Erens Aninam yang dibunuh oleh Elias Aninam yang terjadi pada pukul 2:30  WIT, kemudian diperoleh informasi bahwa pada pukul 5:00 pelaku pembunuhan atas nama Elias Aninam sudah tewas ditikam oleh pelaku yang belum diketahui identitasnya oleh polisi.
Menurut Kapolres Kepulauan Yapen AKBP.Gatot Suprasetya,SIK kepada SULUH PAPUA sore kemarin mengatakan setelah terjadi pembunuhan di Kainui, anggota Polres mendapat telephon dari Rudy Orarei bahwa dirinya melarang polisi melakukan olah TKP.
Sehingga atas perintah Kapolres bersama Kasat Reskrim dan tim ke Kainui melakukan olah TKP. Setelah melakukan olah TKP, dalam perjalan pulang dari Kainui rombongan Kapolres di hadang oleh Rudy Orarei dan kelompoknya, sehingga terjadi kontak senjata  dan mengakibatkan Rudy Orarei tewas
ditempat.
Dikatakan, pasca tewasnya pentolan TPN-OPM wilayah II Saireri tersebut, kemudian aparat kepolisian melakukan penggeledahan di rumah Rudy Orarei yang terletak di Kampung Kontinai dan berhasil mengamankan sejumlah barang bukti (BB) seperti; Senpi V5 Sabhara dengan 5 magazine, 275 butir peluru, 2 senjata rakitan, handpone 3 biji, kampak, GPS, motor jupiter dan sejumlah barang bukti lainya yang telah diamankan.
Kapolres mengakui pasca tertembaknya Rudy Orarei, kondisi kantibmas diwilayah Kepulauan Yapen kondusif terutama di Distrik Angkaisera, dimana masyarakat mengaku senang dan bersyukur agar dapat
hidup aman dan damai.
“Rudy Orarei ini berdasarkan catatan criminal ada sebanyak 10 kasus yang telah dilakukan, termasuk pembakaran rumah warga, pembunuhan masyarakat sipil dan pembunuhan anggota Polri di wilayah Angkaisera. Dan Rudy Orarei merupakan DPO yang sudah ditetapkan Polda Papua dan Polres sebanyak 10 kali’’ jelas Kapolres.
Jenasah korban di bawa ke RSUD Serui untuk di semayamkan di ruang mayat, guna dilakukan otopsi lebih lanjut.
“jenasah akan dibawa oleh keluarga untuk dimakamkan, dan kita bantu proses pemakaman nanti,’’ terang Kapolres.
Lucky Nupapaty selaku perwakilan Keluarga Rudy Orarei ketika di temui di Polres semalam kepada SULUH PAPUA, mengakui keluarga menerima dengan iklhas kematian dari pada Rudy Orarei dan akan membawa jenasahnya untuk di makamkan di Serui laut Distrik Yapen Selatan.
Menurut Lukcy bahwa keluarga membutuhkan perhatian dari pihak kepolisian untuk segera memakamkan jenasah, agar tidak berkepanjangan dan menimbulkan polemik di tengah-tengah masyarakat,
’’kami keluarga menerima kejadian ini dengan ikhlas, kita berharap hukuman dan perbuatan
yang dibuat selama hidupnya, kami mohon dimaafkan, dan semoga proses hukumnya yang sedangkan ditangani dapat  selesai. Masyarakat harus melihat persoalan ini dengan baik, dan kita bersama-sama menjaga keamanan daerah ini”, katanya.
Rencananya hari rabu pagi pukul 10:00 WIT akan makamkan, dan semua masyarakat di persilahkan hadir dan menyaksikan proses pemakaman dan jangan takut kepada aparat keamanan.
Hingga berita ini diturunkan semalam, kondisi aktifitas masyarakat Serui sedikit lengang. Sejumlah toko-toko dan kios memilih tutup, untuk mengantisipasi amukan kelompok pendukung Rudi Orarei yang
merasa tidak puas atas kematian Panglimanya. (A/WIL/R1/L